Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Sabtu, 10 Juli 2010

HAKIKAT MEDIA PEMBELAJARAN

Hakikat Media Pembelajaran
Media adalah kata jamak dari medium (dari bahasa Latin) yang artinya perantara (between)[1]. Makna umumnya adalah “apa saja yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi ke penerima informasi.” Bebrapa ahli telah mendefinisikan media secara berbeda-beda, diantaranya yaitu:
a. Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (Assosiation of Education Technology / AECT) membatasi media sebagai segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi yang disajikan dengan peralatan-peralatan.
b. Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
c. Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Assosiation / NEA) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi, baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya.
d. Media berarti teknologi pembawa pesan yang dimanfaatkan untuk keperluan instruksional. Dalam kontek ini media tidak lain merupakan perluasan dari guru (Schramn, 1977). Ia juga membedakan antara media rumit dan mahal (big media) seperti media grafis, cetak audio, tape recorder dan sebagainya.
Dari beberapa pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa media adalah segala bentuk saluran baik tercetak maupun audio visual yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Dalam proses komunikasi, media hanyalah satu dari empat komponen yang harus ada, yaitu sumber informasi, informasi dan penerima informasi, serta komponen keempat adalah media. Jika satu saja dari empat komponen tidak ada, maka proses komunikasi tidak mungkin terjadi.
Dalam dunia pendidikan, konsep komunikasi tidak banyak berbeda kecuali dalam konteks berlangsungnya komunikasi itu sendiri. Dalam proses instruksional (pembelajaran), sumber informasi adalah guru, siswa, orang-orang lain, bahan bacaan, dan sebagainya. Penerima informasi mungkin guru, siswa, atau orang lain. Hanya dalam hal ini, media mendapat definisi lebih khusus, yaitu teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schraman, 1988), atau sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran (Briggs, 1977). Namun selain itu, ada satu komponen lain yang ternyata perlu juga mendapat tempat dalam proses pembelajaran di kelas, yaitu metode pembelajaran (Heinch et.. al, 1989).
Mengenai pengertian media pembelajaran, Miarso (1986) memberikan definisi media pembelajaran sebagai segala bentuk saluran baik tercetak maupun audio visual yang dapat menyajikan pesan serta merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Manfaat Media dalam Proses Pembelajaran
Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran (Arif S. Sadiman !996) adalah:
a. Dapat memperjelas penyampaian pesan agar tidak bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan).
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, daya indra: objek kecil.
c. Dapat mengatasi sifat pasif anak didik.
d. Mempersempit konsep yang terlalu luas: beragam.
e. Menyamakan pengalaman dan persepsi.
f. Dapat menampilkan peristiwa masa lalu lewat film.
g. Menimbulkan rangsangan dan motivasi siswa untuk belajar mandiri sesuai kemampuan dirinya.
h. Dapat berinteraksi secara langsung antara anak didik dan lingkungan.
Sedangkan menurut para ahli lain, yaitu Schramm mengemukakan peranan media sebagai berikut: Information carrying Technologies That can Be Used for Instruction. The Media of Instruction, consequenthy are Extensions of the Reacher[2].
a. Media merupakan wadah dan pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut.
b. Materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadi proses belajar.
Ada beberapa manfaat lain yang lebih khusus. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya dapat membantu guru mengajar, namun lebih penting lagi bahwa media pembelajaran tersebut dapat digunakan sendiri oleh siswa tanpa kehadiran guru secara fisik. Guru dan media pembelajaran dapat saling mengisi dalam memberikan kemudahan belajar bagi siswa., sehingga perhatian dan bimbingan secara individual dapat dilaksanakan oleh guru dengan baik, sementara informasi atau materi pelajaran pun dapat disajikan dengan jelas, menarik dan padat. Adanya peningkatan siswa dalam tingkat keterampilan kognitif atau motorik, yaitu:
a. Dapat membangkitkan atau mempertinggi minat belajar siswa
b. Dapat mempertinggi mutu proses kegiatan belajar mengajar
c. Guru dapat mengatasi hal-hal yang secara biasa tidak dapat disajikan karena beberapa sebab.
Kemp dan Dayton (1985) mengidentifikasi beberapa manfaat penggunaan media dalam pembelajaran, yaitu:
a. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan
Guru mungkin mempunyai penafsiran yang beraneka ragam tentang sesuatau hal. Melalui media, penafsiran yang beragam ini dapat direduksi dan disampaikan kepada siswa secara seragam. Setiap siswa yang melihat atau mendengar uraian tentang suatu ilmu melalui media yang sama akan menerima informasi yang persis sama seperti yang diterima teman-temannya.
b. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik
Media dapat menyampiakan informasi yang dapat didengar (audio) dan dapat dilihat (visual) , sehingga dapat mendeskripsikan suatu masalah, suatu konsep, suatu proses atau suatu prosedur yang bersifat abstrak dan tidak lengkap menjadi lebih jelas dan lengkap. Media juga dapat menghadirkan “masa lampau” ke masa kini, menyajikan gambar dengan warna-warna yang menarik.
Media dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang mereka untuk bereaksi terhadap penjelasan guru, membuat mereka tertawa atau ikut sedih, memungkinkan mereka menyentuh objek kajian pelajaran, membantu mereka mengkonkretkan suatu yang abstrak, dan sebagainya. Pendeknya media dapat membantu guru menghidupkan suasana kelas dan menghindarkan suasana monoton atau membosankan.
c. Proses Pembelajaran menjadi lebih interaktif
Jika dipilih dan dirancang dengan benar, media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif. Tanpa media, guru mungkin akan cendrung berbicara satu arah kepada siswa mereka. Namun dengan media para guru. Guru mungkin mempunyai penafsiran yang beraneka ragam tentang sesuatu hal. Melalui media, penafsiran yang beragam ini dapat direduksi dan disampaikan kepada siswa secara seragam.
d. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi
Seringkali terjadi, para guru terpaksa menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk menjelaskan suatu pokok pelajaran. Padahal waktu yang dihabiskan tidak perlu sebanyak itu jika mereka memanfaatkan media pembelajaran dengan baik. Misalnya guru menjelaskan tentang teori Gravitasi dengan menggunakan LCD atau juga dengan OHP sehingga murid dapat membayangkan dan memahami bagaimana proses terjadi Gravitasi beserta gejalanya.
e. Kualitas Pembelajaran dapat ditingkatkan
Penggunaan media tidak hanya membuat proses-proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi perkuliahan secara lebih mendalam. Pada umumnya, dengan mendengarkan guru saja, siswa mungkin sudah memahami materi yang dibahas dengan baik. Tetapi bila pemahaman itu diperkaya dengan melihat, menyentuh dan merasakan melalui media, pemahaman mereka terhadap isi pelajaran pasti akan lebih baik lagi.
f. Proses pembelajaran dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar dimana saja dan kapan saja, tanpa tergantung keberadaan seorang guru. Program-program audio visual atau program komputer yang saat ini penggunaannya sedang melanda diberbagai aspek kehidupan adalah contoh-contoh media pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara mandiri.
g. Sikap positif siswa terhadap belajar maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan.
Dengan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik. Dan hal ini dapat meningkatkan kecintaan dan apresiasi siswa terhadap ilmu pengetahuan dan proses pencarian ilmu itu sendiri.
h. Peran guru dapat berubah kearah yang lebih baik
Pertama, guru tidak perlu mengulang-ngulang penjelasan mereka bila menggunakan media dalam pembelajaran. Kedua, Dengan mengurangi uraian verbal (lisan), guru dapat memberi perhatian lebih banyak kepada aspek-aspek lain dari pembelajaran (seperti membangkitkan motivasi siswa, membantu siswa mencari bahan bacaan tambahan, dan lain-lain). Ketiga, peran guru tidak lagi menjadi sekadar “pengajar” tetapi konsultan, penasihat atau manajer pembelajaran.
Jenis-jenis Media
Ada berbagai macam jenis media yang lazim digunakan dalam pembelajaran, diantaranya adalah :
a. Media grafis termasuk media visual
Media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Media ini banyak jenisnya seperti gambar(foto), sketsa, diagram, bagan(chart), garifk(graphs), papan panel, papan buletin.
b. Media audio, yang berkaitan dengan pendengaran
Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokan dalam media audio, antara lain radio, alat perekam pita magnetik, piringan hitam dan laboratorium bahasa.
c. Media Proyeksi diam
Beberapa jenis media proyeksi diam antara lain: Film bingkai (slide), Film rangkai, Overhead transparancy (OHT), Overhead projector (OHP).
d. Media cetak seperti buku, surat kabar.
Pemilihan Media Pembelajaran
Sebelum mengajar hendaknya guru dapat memilih media yang akan digunakan dengan tepat. Hal ini dapat dilakukan apabila media yang tersedia lebih dari satu macam, tetapi walaupun demikian ada tiga hal yang harus dipertimbangkan di dalam pemilihan media yaitu:
a. Tujuan Pembelajaran
b. Kesesuaian media dengan materi yang akan dibahas
c. Tersedianya sarana dan prasarana penunjang
d. Karakteristik siswa
Selain pengembangan tersebut, sebagai pendekatan praktis, Don Ely (1982) menyarankan pertimbangan–pertimbangan berikut supaya diperhatikan juga, yaitu:
a. Media apa yang tersedia?
b. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengembangkan program?
c. Berapa biaya yang diperlukan?
Hand-out dan papan tulis adalah dua media yang hampir selalu digunakan oleh semua guru dan hampir selalu ada disetiap ruang, di perguruan tinggi manapun. Selain handout dan papan tulis, OHP juga umum digunakan di dalam program-program pendidikan atau perkuliahan. Bahan untuk menggunakan OHP mudah dipersiapkan sehingga tidak heran jika ada pembicara memilih OHP sebagai media yang dapat dimanfaatkan untuk program perkuliahan.
•Overhead Projector (OHP) dan Overhaed Transparancy (OHT)
Dalam hal ini OHP difokuskan sebagai perangkat keras dan OHT sebagai perangkat lunak atau tempat penuangan materi atau ide yang jika disatukan menjadi media intruksional yang berarti[3].
a. Overhead Projector (OHP)
Overhead projector adalah salah satu alat yang digunakan untuk memproyeksikan gambar atau tulisan pada transparansi film yang diletakkan di atas OHP dan diproyeksikan ke layar, sehingga diperoleh gambar atau tulisan yang lebih besar dari aslinya. Sulit mendapatkan informasi yang pasti kapan OHP diciptakan. Salah satu sumber mengatakan, OHP dibuat menjelang perang Dunia II (tahun 1941). Pemerintah Amerika Serikat terdesak harus memobilisasi rakyatnya secara cepat dan dalam jumlah banyak, sehingga dirasakan perlu sebuah alat yang dapat dipergunakan untuk menunjukan gambar bagi para instruktur agar lebih efektif dalam melatih calon tentara. Penggunaan papan tulis dan flip chart memang sangat mudah tetapi tidak dapat menjangkau jumlah siswa yang banyak. Penggunaan slide, Film Projector memang lebih efektif tetapi dalam menyajikannya perlu bantuan operator. Dengan demikian maka diciptakan OHP yang dianggap dapat mengisi kekurangan papan tulis atau chart dan menyederhanakan film atau slide sound.
Kelebihan Penggunaan OHP meliputi:
1. Biaya operasional relative lebih murah dibanding media modern.
2. Penggunaannya lebih praktis, mudah ditulisi, dihapus, ditambah gambar atau tulisan.
3. Tidak menimbulkan polusi, seperti jika menggunakan papan tulis.
4. Dapat digunakan untuk memperagakan dua dimensi atau tiga dimensi dalam batas-batas tertentu (dengan menghasilkan gambar silhouette)
5. Penggunaannya sangat mudah, tidak membutuhkan operator
6. Tidak memerlukan ruang yang terlalu gelap
7. Dapat meningkatkan daya ingat karena disajikan secara visual.
8. Dapat dikombinasikan dengan papan tulis dan handout atau jenis media lainnya
9. Terjadi kontak mata karena selama menggunakanya OHP, guru sambil menjelaskan materi kepada siswa.
10. Tanpa layar, gambar atau tulisan dapat diproyeksikan ke dinding.
Disamping kelebihannya, OHP masih mempunyai beberapa kekurangan, antara lain:
1. Tergantung ada tidaknya aliran listrik.
2. OHP yang bukan jenis portable tidak mudah dibawa-bawa.
3. Harus menggunakan spidol atau marking pen (spidol khusus untuk transparansi).
b. Overhead Transparansy
Overhead Transparansy (OHT) merupakan benda yang dalam penggunaannya harus menyatu dengan OHP. OHT adalah tempat dimana materi yang diajarkan dapat dituliskan atau digambar. Dapat diterima atau tidaknya materi yang diajarkan tergantung pada cara menuangkan materi yang diajarkan tersebut menjadi ide visual pada transparansy. OHT sering disebut juga transparansy film, terbuat dari plastik yang tembus pandang atau tembus cahaya sehingga ide visual dapat diproyeksikan.
Lembar transparansy atau write-on adalah lembaran plastik dengan ukuran normal: 26, 5x21 Cm. Ada berbagai macam jenis plastik yang digunakan untuk transparansi bentuk write-on ini, dari yang sangat canggih sampai yang sangat sederhana seperti plastik taplak meja. Dengan menggunakan transparansi bentuk write-on ini berarti para guru dapat menuliskan, menggambarkan pesan, informasi dan materi yang akan disajikan sebelum mengajar.
Beberapa keuntungan atau kelebihan bagi para guru jika menggunakan lembar transparansi adalah:
1. Dapat mempersiapkan materi lebih awal, sehingga sistematika penyajian terencana. Guru juga dapat menghemat waktu karena selama mengajar tidak perlu terus menerus menulis.
2. Dapat menyajikan urutan atau langkah-langkah dari suatu kejadian atau pekerjaan dengan menggunakan bentuk pembuatan OHT tertentu (overlay).
3. Informasi atau materi dapat disajikan dengan memilih tulisan atau gambar dengan menggunakan mesin tik, computer, plotter atau gambar-gambar majalah dan sebagainya.
4. OHT dapat disimpan dan digunakan lagi dalam waktu yang cukup lama dengan menempatkannya pada sebuah kotak atau map
Di lain pihak, OHT mempunyai beberapa keterbatasan yaitu:
1. Sebelum mengajar guru harus meluangkan waktu untuk mempersiapkan atau mengecek kelengkapan materi yang akan disajikan
2. Susunannya mudah kacau
3. Ada masalah dengan penyimpanan
Meskipun demikian, keterbatasan ini dapat ditekan apabila kita mengetahui teknik pengembangannya, produksi, dan pemanfaatannya dengan sedikit teliti dan bersedia melakukan persiapan yang maksimal.
Pengembangan dan Produksi OHT
Seperti halnya media yang lain, OHT juga merupakan media visual yang komunikatif. Untuk mengingat ketentuan-ketentuan tersebut, maka kata Visuals dapat diartikan sebagai singkatan dari kata-kata:
Visible : Mudah dilihat
Interisting : Menarik
Simple : Sederhana
Useful : Isinya berguna atau bermanfaat
Accurate : Benar (dapat dipertanggung jawabkan)
Legitimatte : Masuk akal atau sah
Structured : Terstruktur atau tersusun dengan baik secara visual merupakan cara yang sangat penting dalam usaha mempersipkan OHT yang bermutu.
Mengembangkan rancangan OHT
Yang harus diingat dalam membuat rancangan OHT ini adalah: kembangkan OHT dari seluruh materi yang akan diajarkan, tetapi bukan mengajarkan materi dari OHT yang dikembangkan.
Mempersipkan bahan-bahan yang diperlukan antara lain:
1. Materi bahan yang akan disajikan atau diajarkan
2. Kertas biasa atau kertas visual design pad
3. Pensil dan Penghapus
4. Lettering system, letraset, mesin tik listrik atau computer, rapido, marking pen dan sebagainya.
5. Master art design, gambar kartun, gambar nyata, dan sebagainya
Dalam membuat rancangan perhatikan pedoman berikut ini:
1. Dapat membaca:
a. Gunakan huruf dengan ukuran minimal 0,6 cm
b. Luas bidang penyajian materi idealnya 18x22 cm
2. Sederhana:
a. Tidak lebih dari enam baris untuk satu transparansi
b. Tidak lebih dari enam kata untuk satu baris
c. Satu lembar transparansi cukup untuk satu topic
3. Jelas:
a. Tidak acak-acakan
b. Sistematis dengan menempatkan judul diatas, pokok persoalan di tengah dan penjelasan dibagian bawah
Penggunaan gambar, chart, bagan, foto, dengan mengurangi jumlah tulisan sangat disarankan, karena berguna untuk lebih menarik perhatian siswa.
Visualisasi
Konsep Visual yang dipakai
Proses, prosedur, siklus Bagan alur (flowchart)
Fakta, data Tabel, matriks, daftar
Data perbandingan Grafik
Hubungan ruang Peta
Hubungan dalam struktur Bagan, skema, diagram
Hubungan keluarga Bagan silsilah
Memproduksi OHT
Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam memproduksi OHT, yaitu:
1. Memproduksi OHT dengan menggunakan teknik tertentu, antara lain:
a. Menggunakan color computer printer (plotter)
b. Menggunakan laser atau inject computer printer
c. Menggunakan metode diazo (seperti membuat suatu blue print pada gambar arsitektur)
d. Menggunakan alat thermofax
e. Melalui proses fotografi dan masih banyak lagi teknik lainnya.
2. Menggunakan OHT secara langsung (manual)
Dengan teknik yang sangat sederhana OHT dapat dipersiapkan dengan cepat. Bahan-bahan yang dapat digunakan adalah:
a. Plastik transparansi film, baik yang khusus diproduksi oleh suatu perusahaan maupun plastik yang biasa digunakan untuk menutup meja.
b. OHP pen (maker pen) atau spidol sebaiknya digunakan yang permanent
c. Penghapus, penggaris, selotape, kapas dan acetone
d. Bingkai (bila perlu), dapat dibeli dari produk tertentu atau membuat sendiri.
Bagaimana cara menuangkan gambar atau tulisan yang telah dikembangkan menjadi master OHT di atas transparansi film?
Transparansi film pada umumnya berukuran A4 (kuarto) namun demikian tidak seluruh bidang plastik tersebut dapat diisi pesan atau visual, karena format proyeksi yang baku adalah 18 x 22 cm. Jadi pertama kali yang harus dilakukan adalah tentukan ukuran tersebut pada transparansi film, kemudian letakkan master OHT dibawahnya. Jiplaklah visual yang telah dikembangkan pada master OHT ke dalam transparansi film. Pada dasarnya pembuatan OHT adalah teknik mengubah materi pelajaran berupa tulisan verbal yang bersifat lebih kongkrit.
Ada beberapa cara pembuatan OHT menurut bentuknya yaitu:
1. Transparansi bentuk tunggal, bentuk yang sangat sederhana dan hanya memerlukan satu lembar transparansi film saja.
2. Transparansi bentuk tumpang tindih (overlay) bentuk yang lebih kompleks biasa digunakan untuk menjelaskan tentang sekuen, alur cerita, atau prosedur dari suatu hal.
3. Transparansi bentuk masking (tutup buka) bentuknya hampir sama dengan bentuk tunggal hanya saja ditambah penutup dari kertas, biasanya digunakan untuk menjelaskan tahapan-tahapan dari suatu hal.
4. Transparansi bentuk billboarding, bentuknya sama dengan bentuk tunggal, hanya transparansi dilapisi oleh transparansi berwarna, pada bagian tertentu yang perlu penekanan, transparansi lapisan digunting.
OHT belum sempurna atau tidak menarik bila tidak diberi warna, oleh sebab itu warnai dengan marker pen untuk area-area kecil dan gunakan adhesivecolor untuk area-area besar. Pemakaian warna idealnya maksimum empat warna untuk satu OHT. Untuk memberi perhatian khusus pada kata-kata kunci pemberian warna dengan marker pen langsung pada tulisan sangat dianjurkan. Ada baiknya jika OHT tersebut diberi bingkai (mounting frame) agar OHT tidak mudah kotor, dan dapat untuk catatan.
Menyajikan OHT
Dibandingkan dengan media pembelajaran modern lainnya (slide, film strip atau opaque), OHP merupkan alat Bantu mengajar “tatap muka sejati” maksudnya adalah untuk menggunakan OHP keadaan ruang tetap seperti semula, tidap perlu gelap, penyaji tetap pada posisi semula (dengan sikap yang sama), yaitu tetap menghadap kepada siswa.
Beberapa pedoman penggunaan OHP pada waktu mengajar antara lain:
a. Menghadap kearah siswa.
b. Tidak menghadap atau membaca pada layar (kecuali untuk mengontrol ketetapan fokus dan letak tulisan atau gambar pada OHT.
c. Letakan OHT terlebih dahulu diatas OHP dengan baik kemudian baru nyalakan lampu OHP.
d. Mematikan segera lampu OHP jika tidak diperlukan lagi.
e. Penerangan ruangan tetap seperti semula (kecuali jika cahaya sangat kuat, lampu dekat OHP dapat dimatikan).
f. Gambar atau tulisan pada layar (sebagai hasil proyeksi) harus dapat dilihat dan dibaca dengan mudah oleh seluruh siswa.
g. Tunjukanlah hal-hal yang sedang dibicarakan, sehingga siswa tahu langkah demi langkah atau urut-urutan dari materi yang sedang dijelaskan.
h. Hindari catatan yang acak-acakan.
i. Tambahkan rincian penjelasan untuk hal-hal yang disajikan pada transparansi.
j. Media sangat membantu program perkuliahan
k. Dengan menggunakan media berarti materi yang akan diajarkan dapat dipersiapkan terlebih dahulu. Selain itu penggunaan media dapat menghindari penafsiran yang berbeda-beda.
l. Dengan menggunakan media proses pembelajaran akan lebih menarik, lebih interaktif dan lebih meningkatkan proses belajar mengajar.
Selain dapat memilih media dengan tepat, guru diharapkan juga mampu mengembangkan sendiri bentuk media yang paling sederhana. Overhead projector adalah salah satu alat untuk memproyeksikan gambar atau tulisan (pada OHT) ke layar OHP termasuk media yang sederhana yang sudah banyak digunakan di lembaga-lembaga atau perguruan tinggi OHP mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Informasi atau pesan yang akan disampaikan dapat berupa gambar atau tulisan yang dituangkan di atas OHT.
•Media dalam bentuk cetak (Buku)
Buku Sekolah meliputi buku teks utama, buku teks pelengkap, buku bacaan baik non fiksi maupun fiksi, buku sumber dan sebagainya.
a. Buku teks utama adalah buku pokok yang menjadi pegangan guru dan murid yang subtansinya mengacu pada kurikulum yang berlaku.
b. Buku teks pelengkap adalah buku yang sifatnya membantu atau merupakan tambahan buku teks utama yang digunakan oleh murid dan guru yang sebagian besar atau seluruh isinya menunjang kurikulum.
c. Buku bacaan non fiksi adalah buku bacaan yang ditulis berdasarkan fiksi atau kenyataan. Pada umumnya, buku bacaan non fiksi menunjang salah satu bidang studi, sistematika penyusunannya tidak seperti buku teks pelengkap tetapi di sajikan secara popular.
d. Buku bacaan fiksi adalah buku bacaan yang ditulis tidak berdasarkan fakta atau kenyataan, melainkan berdasarkan hayalan penulis, isi buku fiksi biasanya berbentuk cerita yang tidak benar terjadi.

________________________________________

[1] Arif S. Sadiman, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatan, (PT.Raja Grafindo Persada)
[2] Arif S. Sadiman, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatan, (PT.Raja Grafindo Persada)
[3] Arum, Wahyu Sri Ambar, Manajemen sarana dan prasarana pendidikan, (MKM, 2007), Halaman 145

Tidak ada komentar: